Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Ingin Kembali Ke Al-Quran Dan Sunnah Kuasai Ilmu Ini Dulu

caracari.info Februari 19, 2018
Kembali ke Quran Hadits.

Pengambilan putusan hukum dengan langsung merujuk pada nash Al-Quran maupun Hadits adalah pekerjaan yang tidak bisa dilakukan sembarang orang. Hanya orang-orang yang memiliki daya intektual yang memadai dengan ketentuan-ketentuan yang ketat.

Faktanya tidak ada seorang pun, bahkan penjargon KEMBALI KE QURAN HADITS yang dapat langsung menggali hukum ke AlQuran dan Hadits tanpa campur tangan Ulama. Penjargon KEMBALI KE QURAN HADITS hanya ingin melegitimasikan golongannya untuk mendelegitimasikan golongan yang lain. Bahkan cenderung pemaksaan kefahaman suatu ilmu, mengabaikan ilmu lain yang lebih luas. Penjargon KEMBALI KE QURAN HADITS lupa bahwa Imam Hadits sekelas Imam Bukhori dan Imam Muslim pun mengikuti Ulama lain di kurun sebelumnya.

Pada kasus lain, golongan semacam ini menjadi bibit perpecahan, mengoyak persatuan dan kesatuan. Lebih parah lagi jika menjadi bibit pemaksaan penafsiran hukum Islam ala ISIS. Yang tak sepaham dengannya, serang dan dihancurkan. Saling menghargai perbedaan tidak akan ada lagi. Padahal memahami sebuah ayat atau hadits bukanlah pekerjaan mudah, tak ada yang mampu murni mengambil hukum langsung dari kedua sumber hukum ini kecuali Rasulullah sendiri. Kembali ke AlQuran dan Hadits artinya butuh perantara ilmu dan kitab karya Ulama terdahulu yang valid tersambung nasab keilmuannya sampai ke baginda Rasul. Jika Ulama Anda berani mengambil hukum ke Quran Hadist langsung, paling tidak dia wajib menguasai beberapa ilmu ini:

1. Ilmu Lughat (Filologi), yaitu ilmu untuk mengetahui arti setiap kata al Quran.
Mujahid rah.a. berkata, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka tidak layak baginya berkomentar tentang ayat-ayat al Quran tanpa mengetahui ilmu lughat. Sedikit pengetahuan tentang lughat tidaklah cukup karena kadangkala satu kata mengandung berbagai arti. Jika mengetahui satu atau dua arti, tidaklah cukup. Bisa jadi kata itu mempunyai arti dan maksud yang berbeda.

2. Ilmu Nahwu (Tata bahasa), Sangat penting mengetahui ilmu Nahwu, karena sedikit saja I’rab (bacaan akhir kata) berubah akan mengubah arti perkataan itu. Sedangkan pengetahuan tentang I’rab hanya didapat dalam ilmu Nahwu.
.
3. Ilmu Sharaf (Perubahan bentuk kata), Mengetahui Ilmu sharaf sangat penting, karena perubahan sedikit bentuk suatu kata akan mengubah maknanya.
Ibnu Faris berkata, “Jika seseorang tidak mempunyai ilmu sharaf, berarti ia telah kehilangan banyak hal.”
Dalam Ujubatut Tafsir, Syaikh Zamakhsyari rah.a. menulis bahwa ada seseorang yang menerjemahkan ayat al Quran yang berbunyi:
“(Ingatlah) pada suatu hari (yang pada hari itu) kami panggil setiap umat dengan pemimpinya. “(Qs. Al Isra [17]:71)
Karena ketidaktahuannya tentang ilmu sharaf, ia menerjemahkan ayat itu seperti ini:
“Pada hari ketika manusia dipanggil dengan ibu-ibu mereka.” Ia mengira bahwa kata ‘Imaam’ (Pemimpin) yang merupakan bentuk mufrad (Tunggal) adalah bentuk jamak dari kata ‘um’ (Ibu). Jika ia memahami ilmu sharaf, tidak mungkin akan mengartikan ‘imaam’ sebagai ibu-ibu.

4. Imu Isytiqaq (Akar kata), Mengetahui ilmu isytiqaq sangatlah penting. Dengan ilmu ini dapat diketahui asal-usul kata. Ada beberapa kata yang berasal dari dua kata yang berbeda, sehingga berbeda makna. Seperti kata ‘masih’ berasal dari kata ‘masah’ yang artinya menyentuh atau menggerakkan tangan yang basah ke atas suatu benda, atau juga berasal dari kata ‘masahat’ yang berarti ukuran.

5. Ilmu Ma’ani, Ilmu ini sangat penting di ketahui, karena dengan ilmu ini susunan kalimat dapat di ketahui dengan melihat maknanya.

6. Ilmu Bayaan, Yaitu ilmu yang mempelajari makna kata yang zhahir dan yang tersembunyi, juga mempelajari kiasan serta permisalan kata.

7. Ilmu Badi’, yakni ilmu yang mempelajari keindahan bahasa. Ketiga bidang ilmu di atas juga di sebut sebagai cabang ilmu balaghah yang sangat penting dimiliki oleh para ahli tafsir. Al Quran adalah mukjizat yang agung, maka dengan ilmu-ilmu di atas, kemukjizatan al Quran dapat di ketahui.

8. Ilmu Qira’at, Ilmu ini sangat penting dipelajari, karena perbedaan bacaan dapat mengubah makna ayat. Ilmu ini membantu menentukan makna paling tepat di antara makna-makna suatu kata.

9. Ilmu Aqa’id, Ilmu yang sangat penting di pelajari ini mempelajari dasar-dasar keimanan, kadangkala ada satu ayat yang arti zhahirnya tidak mungkin diperuntukkan bagi Allah swt. Untuk memahaminya diperlukan takwil ayat itu, seperti ayat:
“Tangan Allah di atas tangan mereka.” (Qs. Al Faht 48:10)

10. Ushu l Fiqih, Mempelajari ilmu ushul fiqih sangat penting, karena dengan ilmu ini kita dapat mengambil dalil dan menggali hukum dari suatu ayat.

11. Ilmu Asbabun-Nuzul, Yaitu ilmu untuk mengetahui sebab-sebab turunnya ayat al Quran. Dengan mengetahui sebab-sebab turunnya, maka maksud suatu ayat mudah di pahami. Karena kadangkala maksud suatu ayat itu bergantung pada asbabun nuzul-nya.

12. Ilmu Nasikh Mansukh, Dengan ilmu ini dapat dipelajari suatu hokum uang sudah di hapus dan hokum yang masih tetap berlaku.

13. Ilmu Fiqih, Ilmu ini sangat penting dipelajari. Dengan menguasai hokum-hukum yang rinci akan mudah mengetahui hukum global.

14. Ilmu Hadist, Ilmu untuk mengetahui hadist-hadist yang menafsirkan ayat-ayat al Quran.

15. Ilmu Wahbi, Ilmu khusus yang di berikan Allah kepada hamba-nya yang istimewa, sebagaimana sabda Nabi Saw.

Bagi umat Islam, menjalankan ibadah tak cukup jika "Hanya berpedoman" pada Al-Quran dan Hadist. Sebab, kedua sumber hukum Islam itu hanya memberikan tuntunan pokok beribadah secara umum, tidak secara terinci.

Umat Islam mesti mengikuti pendapat salah satu dari keempat Imam Madzhab yang telah teruji dan mumpuni. Yang sampai saat ini tak ada yang dapat menyamai keilmuannya. Mereka yang salatnya bagus, bacaannya fasih, saat ditanya belajar dari mana? Pasti akan menjawab: Dari guru. Gurunya belajar dari mana? Gurunya belajar (Di antaranya) melalui Kitab Kuning dan Kitab Putih.

Begitu pula ibadah lain misalnya haji. Juga tak bakal ditemukan pedoman praktisnya dalam Al-Quran dan Hadist. Apalagi haji itu berkaitan dengan lokus, berkaitan dengan tempat. Tidak ada petunjuk, Arafah di mana, Mina itu di mana. Enggak akan ketemu kalau dicari di Al-Quran dan Hadist. Ibarat obat, serahkan kepada Apoteker dan Dokter sebagai ahlinya.

#santrionline.net #nu.or.id

Mengenal Struktur Nahdlatul Ulama

caracari.info Januari 30, 2018
Struktur Organisasi Nahdlatul Ulama
Struktur Organisasi Nahdlatul Ulama:
- Pengurus Besar (tingkat Pusat).
- Pengurus Wilayah (tingkat Provinsi), terdapat 33 Wilayah.
- Pengurus Cabang (tingkat Kabupaten/Kota) atau Pengurus Cabang Istimewa untuk kepengurusan di luar negeri, terdapat 439 Cabang dan 15 Cabang Istimewa.
- Pengurus Majlis Wakil Cabang / MWC (tingkat Kecamatan), terdapat 5.450 Majelis Wakil Cabang.
- Pengurus Ranting (tingkat Desa / Kelurahan), terdapat 47.125 Ranting.

Setiap kepengurusan Pusat, Wilayah, Cabang, dan Majelis Wakil Cabang, terdiri dari:
- Mustasyar (Penasehat)
- Syuriyah (Pimpinan tertinggi)
- Tanfidziyah (Pelaksana Harian)

Lembaga.
Lembaga adalah perangkat departementasi organisasi Nahdlatul Ulama yang berfungsi sebagai pelaksana kebijakan Nahdlatul Ulama, berkaitan dengan kelompok masyarakat tertentu dan/atau yang memerlukan penanganan khusus. Lembaga ini meliputi:
- Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LD-NU)
- Lembaga Pendidikan Ma'arif Nahdlatul Ulama (LP Ma'arif NU)
- Rabithah Ma'ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI-NU, Lembaga Asosiasi Pesantren Nahdlatul Ulama)
- Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LP-NU)
- Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPP-NU)
- Lembaga Pelayanan Kesehatan Nahdlatul Ulama (LPK-NU)
- Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKK-NU)
- Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Nahdlatul Ulama (LAKPESDAM-NU)
- Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBH-NU)
- Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia Nahdlatul Ulama (LESBUMI-NU)
- Lembaga Zakat, Infaq, dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZIS-NU)
- Lembaga Waqaf dan Pertanahan Nahdlatul Ulama (LWP-NU)
- Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBM-NU)
- Lembaga Ta'mir Masjid Nahdlatul Ulama (LTM-NU)
- Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LK-NU)
- Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LF-NU)
- Lembaga Ta'lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN-NU)
- Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI-NU)

Lajnah.
Merupakan pelaksana program Nahdlatul Ulama (NU) yang memerlukan penanganan khusus. Berdasarkan perubahan AD/ART hasil Muktamar 33 NU di Jombang, Lajnah Nahdlatul Ulama digantikan dengan lembaga. Semula ada 3 (tiga) Lajnah yaitu:
- Lajnah Ta'lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN-NU) menjadi Lembaga Ta'lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU)
- Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LF-NU)menjadi Lembaga Falakiya Nahdlatul Ulama (LFNU)
- Lajnah Pendidikan tinggi (LPT-NU) menjadi Lembaga Pendidikan Nahdlatul Ulama (LPTNU)

Banom.
Badan Otonom adalah perangkat organisasi Nahdlatul Ulama yang berfungsi melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama yang berkaitan dengan kelompok masyarakat tertentu dan beranggotakan perorangan.

Badan Otonom dikelompokkan dalam katagori Badan Otonom berbasis usia dan kelompok masyarakat tertentu, dan Badan Otonom berbasis profesi dan kekhususan lainnya.

Jenis Badan Otonom berbasis usia dan kelompok masyarakat tertentu adalah:
- Muslimat Nahdlatul Ulama (Muslimat NU)
- Gerakan Pemuda Ansor Nahdlatul Ulama (GP Ansor NU)
- Fatayat Nahdlatul Ulama (Fatayat NU)
- Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU)
- Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU)
- Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)
- Mahasiswa Ahlith Thoriqoh Al-Mu'tabaroh an-Nahdliyah (MATAN)

Badan Otonom berbasis profesi dan kekhususan lainnya:
- Jam'iyyah Ahli Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyah (JATMAN)
- Jami'iyyatul Qurro wal Huffadz Nahdlatul Ulama (JQH NU)
- Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU)
- Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (SARBUMUSI)
- Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa (IPSNU Pagar Nusa)
- Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU)
- Serikat Nelayan Nahdlatul Ulama
- Ikatan Seni Hadroh Indonesia (ISHARI)

Jangan Melakukan Ibadah Yang Tidak Dicontohkan Oleh Rasulullah

caracari.info Maret 08, 2017
Syarat Khutbah


Assalamu’alaikum wr wb. Dalam beberapa kesempatan khutbah saya sering menemukan khotib menyampaikan materi yang sangat menyinggung perasaan, misalnya menjelek-jelekkan orang lain dan memusuhi kelompok lain secara terang-terangan. Dalam kondisi demikian, apakah boleh kami mengintrupsi khutbah, atau sebaiknya kami mufaroqoh atau bagaimana? Kondisi demikian seringkali menyebabkan shalat Jum’at kita tidak khusu’. Terimakasih atas penjelasannya. (Hasannuddin, Jakarta)

Jawaban:

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Bahwa rukun khutbah itu ada lima, pertama memuji Allah dengan lafazh al-hamd, kedua membaca shalawat kepada Rasulullah saw dengan lafazh ash-shalat, ketiga, wasiat untuk bertakwa kepada Allah swt, keempat, mendoakan orang-orang mukmin, dan kelima, membaca ayat al-Qur`an minimal satu ayat. Namun jika salah satu rukun tersebut tidak terpenuhi maka khutbahnya tidak sah, dan konsekwensinya adalah tidak sahnya shalat jumat. Dalam kondisi seperti maka yang dilakukan adalah melakukan i’adah shalat dhuhur.

Sedang yang jadi persoalan di atas adalah menyangkut isi khutbah itu sendiri. Apakah diperbolehkan menginterupsi khatib yang isi khutbahnya adalah menjelek-jelekkan orang lain. Pada prinsipnya, menurut para fuqaha` berbicara pada saat khutbah itu tidak diperbolehkan. Namun ada yang menarik dari pandangan madzhab Maliki.

Namun sebelum kami mengemukakan pandangan madzhab Maliki terlebih dahulu kami kemukakan bahwa menurut mereka, khotib dan imam shalat jumat itu harus satu orang kecuali ketika ada udzur. Artinya, yang menjadi khatib juga sekaligus menjadi imam.

Dalam pandangan madzhab Maliki diharamkan berbicara ketika imam sedang berkhutbah atau ketika ia duduk di antara dua khutbah. Larangan berbicara ini ditujukan untuk semua jamaah baik yang mendengarkan khutbah atau tidak, baik yang di serambi masjid atau jalan yang terhubung dengan masjid.

Lebih lanjut menurut mereka jika isi khutbah imam ternyata tidak tidak jelas atau ngawur, seperti memuji orang yang tak layak untuk dipuji atau mencaci orang yang sebenarnya tidak layak dicaci, maka larang berbicara tersebut menjadi gugur. Demikian sebagaimana dikemukan Abdurrahman al-Juzairi dalam kitab al-Fiqh ‘ala Madzahib al-Arba`ah:

اَلْمَالِكِيَّةُ قَالُوا يَحْرُمُ الْكَلَامُ حَالَ الْخُطْبَةِ وَحَالَ جُلُوسِ الْإِمَامِ عَلَى الْمِنْبَرِ بَيْنَ الْخُطْبَتَيْنِ وَلَا فَرْقَ فِي ذَلِكَ بَيْنَ مَنْ يَسْمَعُ الْخُطْبَةَ وَغَيْرِهِ فَالْكُلُّ يَحْرُمُ عَلَيْهِ الْكَلَامُ وَلَوْ كَانَ بِرَحْبَةِ الْمَسْجِدِ أَوِ الطُّرُقِ الْمُتَّصِلَةِ بِهِ وَإِنَّمَا يَحْرُمُ الْكَلَامُ الْمَذْكُورُ مَا لَمْ يَحْصُلْ مِنَ الْإِمَامِ لَغْوٌ فِي الْخُطْبَةِ كَأَنْ يَمْدُحُ مَنْ لَا يَجُوزُ مَدْحُهُ أَوْ يَذُمُّ مَنْ لَا يَجُوزُ ذَمُّهُ فَإِنْ فَعَلَ ذَلِكَ سَقَطَتْ حُرْمَتُهُ (عبد الرحمن الجزيري، الفقه على مذاهب الأربعة، بيروت-دار الكتب العلمية، الطبعة الثانية، 1424هـ/2003م، ج، 1، ص. 361)

“Menurut madzhab Maliki haram berbicara ketika khutbah dan ketika imam duduk di atas mimbar di antara dua khutbah. Dan dalam hal ini tidak ada perbedaan di antara orang yang mendengarkan khutbah atau tidak. Semua haram berbicara meskipun berada di teras masjid atau jalan yang terhubung dengan masjid. Hanya saja keharaman berbicara tersebut sepanjang tidak terdapat dalam khutbahnya imam kesia-siaan atau ngawur (laghw), seperti memuji orang yang tak boleh dipuji, atau menghina orang yang tidak boleh dihina. Jika imam melakukan itu maka gugurlah keharamannya (berbicara ketika khutbah berlangsung atau ketika ia duduk di atas mimbar di antara dua khutbah)” (Abdurrahman al-Juzairi, al-Fiqh ‘ala Madzhabib al-Arba’ah, Bairut-Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet ke-2, 1424 H/2003 M, juz, 1, h. 361)

Jika pandangan madzhab maliki ini ditarik ke dalam konteks pertanyaan di atas, maka menginterupsi khatib yang dalam khutbahnya menjelek-jelekkan kelompok lain bisa saja diperbolehkan, sepanjang hal itu adalah masuk dalam kategori laghw. Dan tentunya harus didukung dengan pengetahuan yang benar.

Meskipun mengiterupsi khatib itu boleh menurut madzhab Maliki, namun jangan sekali-kali dilakukan tanpa dasar pengetahun yang kuat. Dan jika khatib tidak menanggapi interupsi atau peringatan kita maka jangan mendesak khatib untuk membenarkan khutbahnya. Kendatipun demikian, sebaiknya jika khatib dalam khutbahnya ada hal-hal yang “ngawur” maka diingatkan setelah selesai shalat jumat dengan ungkapan yang santun, tetap menghormati khatib dan menjaga kemuliaan masjid. (Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Mencegah Kerusakan Lebih Utama Dari Mendatangkan Kebaikan

caracari.info Juli 09, 2016
Mengganti hasil perjuangan harta, nyawa dan istikhoroh para ulama' pendahulu berupa Pancasila dan NKRI oleh para orang pintar agama baru faham dari luar negeri yang tidak laku dan menimbulkan kerusakan di negara asalnya untuk digunakan merusak negara kita Indonesia yang damai dan sudah sejalan dengan piagam madinahnya Rasulullah adalah jangan dilakukan
Dari Hudzaifah Radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda;
“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kamu adalah seseorang yang telah membaca al-Qur’an, sehingga ketika telah tampak kebagusannya terhadap al-Qur’an dan dia menjadi pembela Islam, dia terlepas dari al-Qur’an, membuangnya di belakang punggungnya, dan menyerang tetangganya dengan pedang dan menuduhnya musyrik”.

Aku (Hudzaifah) bertanya,
“Wahai nabi Allah, siapakah yang lebih pantas disebut musyrik, penuduh atau yang dituduh?”.
Beliau menjawab, “Penuduhnya”.

Rasulullah bersabda:
“Siapa pun orang yang berkata kepada saudaranya, ‘Wahai kafir’ maka sungguh salah seorang dari keduanya telah kembali dengan kekufuran tersebut, apabila sebagaimana yang dia ucapkan. Namun apabila tidak maka ucapan tersebut akan kembali kepada orang yang mengucapkannya.” (HR Muslim)

AlQuran, UUD dan Pancasila.

caracari.info Maret 13, 2016
Kita jangan nyalahkan Pancasila dan UUDnya. Apalagi menggantinya dengan cara ilegal. Agama sendiri dalam hadis diterangkan tidak ada paksaan, apalagi memaksa suatu negara untuk berundang-undang langsung memakai Alquran dan hadist.
Setelah orde reformasi, kebebasan berpendapat seakan kebablasan. Sehingga ada beberapa kelompok yang mencoba menebarkan pandangannya bahwa dasar negara Indonesia tidaklah hukum Tuhan yang patut diakui dan dijalankan. Padahal antara AlQuran-Hadist, UUD dan Pancasila isinya tidak bertentangan. Alquran dan hadist adalah hukum Islam. Sedangkan Pancasila dan Undang-undang dasar, merupakan kesepakatan bersama suatu bangsa dan rakyat di negara Indonesia. Dan tidak level dipertentangkan diantaranya


KUHP adalah peninggalan hukum kolonial. Makanya bisa direvisi sesuai hukum Islam. Jika kita menghendaki, berjuanglah disana, jangan bikin runyam NKRI yang sudah tenang, enak menuntut ilmu, nyaman beribadah, mengapa harus ikut-ikutan perang bunuh-bunuhan memperebutkan politik seperti di Timur Tengah. Mengapa dulu Indonesia memakai KUHP bukan Qonun seperti nama perundang-undangan di Aceh atau nama lain selain KUHP? Coba lihat lagi sejarah awal kemerdekaan Indonesia kenapa dan mengapa itu terjadi.

Jika mendengar dan terobsesi Arab Saudi (Sekedar contoh saja, atau ganti dengan negara lain jika ingin) yang berasaskan Alquran itu benar, namun jangan salah paham dengan alur pola pikirnya.
Kita benar soal pedoman hidup alquran, tapi salah jika setiap pedoman hidup bernama selain quran itu harus musnah. Hanya soal nama atau bungkus jangan dibesar-besarkan. Kalau kita suka nasi dan kelaparan, dibungkus daun pisang atau tupperware tidak usah dimasalahkan. Jangan menyiksa diri mempersoalkan bungkus. Kalau lapar, ya makan saja.

Di negara Islam atau manapun, misalnya Arab yang sering jadi rujukan berdasar Quran Hadis itu juga punya peraturan selain Alquran, dan bukan berarti itu membuat peraturan hukum lain selain Alquran. Karena syariah tidak secara khusus membahas pelaksanaan urusan pemerintahan.
Di Saudi Arabia sendiri, dimulai dengan Raja Abdul Aziz, telah banyak mengundangkan peraturan berkaitan dengan fungsi pemerintah.

Pada awal tahun 1992, Raja Fahd menjadi raja Saudi Arabia pertama yang mengkompilasi peraturan ke dalam satu dokumen yang disebut Nizham Al-Hukm Al-Asasi Tahun 1412 H/1992 M sebagai The Basic Law of Government atau hukum dasar pemerintahan.
Jika di Indonesia dikenal dengan hukum dasar yaitu batang tubuh UUD 1945. Nizham Al-Hukm Al-Asasi tidak dapat dikatakan sebagai UU yang ditetapkan berdasarkan kontrak atau perjanjian antara raja dengan rakyat (Verdrag constitutie atau factum) Karena sesungguhnya tidak ada kontrak sosial antara Raja Fahd dengan rakyatnya yang berisi penetapan hak-hak rakyat dan pembatasan kekuasaan absolut raja sehingga lahir prinsip-prinsip monarkhi konstitusional.

Indonesia sudah enak, ada hukum yang dirasa tidak baik bisa direvisi. Kita jangan nyalahkan Pancasila dan UUDnya. Apalagi menggantinya dengan cara ilegal. Agama sendiri dalam hadis diterangkan tidak ada paksaan, apalagi memaksa suatu negara untuk berundang-undang langsung memakai Alquran dan hadist.
KH. Turaichan Adjhuri kota Kudus berkata: "Ojo gumunan, ojo gampang kepincut, kabeh perkoro kudu diukur nganggo mizanus syar'i"

~ Damailah negeriku, dukung Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jangan biarkan dibuat runyam atas nama agama tetapi sebenarnya dimanfaatkan untuk kekuasaan kelompok tertentu. La ikroha fiddin.Wassalam, dan terima kasih.

Ikut Ulama Mana?

caracari.info Februari 24, 2016
Kembali Ke Quran Hadits
Bukan masalah ikut ulama' dari daerah mana. Arab atau selain Arab, bukankah hadist Nabi tidak mengatakan ikutlah hanya ulama Arab? Justru menunjukkan keilmuannya jika ada ulama Indonesia dapat menjadi bagian dari ulama besar negeri Arab.

Diantaranya adalah warga Indonesia keturunan Minangkabau, asal Sumatera Barat, Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi yang pernah menjadi imam, khatib, dan guru besar di Masjidil Haram, pada akhir abad ke-19. Syaikh Ahmad lahir pada 26 Juni 1860 dan pergi ke Mekkah pertama kali saat usianya baru 9 tahun. Dia mendapat gelar mufti bermahzab Syafi'i yakni ulama yang memberikan wewenang untuk memberikan fatwa. Muridnya mencapai ratusan ribu orang. Dua di antaranya adalah Kyai Haji Hasyim Asy'ari yang mendirikan organisasi Nahdatul Ulama, dan Kyai Haji Ahmad Dahlan yang mendirikan Muhammadiyah.
Syaikh Ahmad sangat menguasai ilmu fiqih. Tak hanya itu, ia juga menguasai sejarah, aljabar, ilmu falak, dan geometri. Sejak kecil, beliau sudah khatam dan hafal beberapa juz Al-Quran. Beliau meninggal di usia 55 tahun, pada 13 Maret 1916.
Tidak masalah engkau pilih yang mana, yang penting ulama yang bener dan pinter. Silsilah keilmuannya nyambung ke Baginda Rasulullah.
Sebenarnya jika ada orang yang mengatakan kembalilah kepada AlQuran dan Hadist dan menyalahkan masyarakat yang telah mengikuti para ulamanya yang terdahulu, sebenarnya ia ingin mengatakan ikutilah guru saya, namun dengan retorika kembali kepada AlQuran dan Hadits. Sama juga ikut gurunya gurunya guru juga, cuman dia menganggap yang pasti benar adalah kelompoknya. Bisa jadi yang gurunya guru itu terputus sanadnya tidak sampai ke Rasulullah.


Pada dasarnya siapapun guru kita, pasti mengamalkan Alquran Hadist dari Guru, walau guru itu memfatwakan ikut AlQuran dan sunnah langsung. Pandai-pandailah memilih Guru. Ikutlah Guru yang jujur, walau berilmu agama tinggi tetap ikut pendapat ulama yang lebih tinggi lagi ilmunya. Bukan yang meniadakan peran pengajar AlQuran dan hadist sebelumnya lalu seakan bisa menggali hukum secara langsung.



Meneladani Rasulullah

caracari.info Desember 20, 2015
Harta itu adalah bayang-bayang yang akan hilang dan cepat pergi.
Alas tidur Rasulullah hanya di atas tikar terbuat dari pelepah kurma


Heppi Maulidir Rasul.
Rasulullah adalah panutan yang setiap Rabiul Awal kita peringati dan kita dengung-dengungkan kita teladani. Namun yang sangat membuat lidah kita kelu adalah ketika kita dihadapkan kepada kenyataan, kita belum bisa mengikuti perilaku beliau terhadap dunia.
Rasulullah adalah entrepreneur yang sangat sukses, beliau pelaku bisnis ekspor dan impor yang handal yang tentu saja kaya raya diusia dini. Mahar pernikahan kepada istri-istrinya pun 500 dirham, ada yang mengatakan 20 ekor onta. (Diriwayatkan oleh Imam Muslim). Belum lagi Beliau mendapatkan bagian ghonimah 1/5 setiap peperangan. Tercatat sekitar 10 tahun beliau tinggal di Madinah, terjadi 64 kali peperangan: 26 peperangan dipimpin Rasulullah sendiri dan selebihnya adalah pasukan utusannya.

Terbayang berapa milyar bahkan mungkin berapa trilyun harta Beliau. Namun alas tidur beliau hanya di atas tikar terbuat dari pelepah kurma. Sehingga, terlihat meninggalkan bekas di lambungnya. Saat beliau wafat pun, hanya meninggalkan keledai putih yang biasa dikendarainya dan sebidang tanah yang disedekahkan untuk kepentingan orang rantau (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari).

Lalu kemanakah semua kekayaan Rasulullah itu? Jawabnya kita semua tahu, semuanya didepositokan untuk Allah. Untuk kemaslahatan ummat dan perjuangan Islam.

Sehingga seringkali kita bertanya kepada diri sendiri pada setiap peringatan maulid Rasul, bisakah kita ittiba’ kepada Rasul bekerja dan membelanjakan kekayaan untuk agama, bukan bekerja dan mendapatkan harta dari agama? Jika tidak bisa membelanjakan keseluruhan, paling tidak sebagian atau sebagiannya sebagian. : ) Atau bisakah kita dengan lantang menyuarakan disetiap peringatan maulid Nabi: "Mari kita berderma ala Rasul". 😊

Islam Ya Islam

caracari.info Agustus 04, 2015
Cinta Islam Nusantara
Islam ya Islam. Air ya air. Gelas ya gelas. AIR GELAS dengan GELAS AIR juga tidak sama. Istilah Islam nusantara  tidak ada yang perlu diributkan. Karena tidak ada yang salah dikeduanya.

Air di gelas, air di baskom dengan air di teko juga beda. Berbeda cara akulturasi dan asimilasinya.
Dan sangat manis dan cuantik sekali, Islam masuk ke nusantara sukses dengan akulturasi dan asimilasi itu.

Belakangan ini, masyarakat Indonesia begitu sensitif. Cuman berbeda istilah sudah emosi, berbeda bungkus sudah saling caci. Diskusi maunya merasa paling Islami. Sehingga air akan kembali sebagai air. Gelas tetap gelas, baskom tetap baskom. Kompor tetap kompor. Air akan selalu menjadi air meskipun dimasukkan ke wadah yang berbeda nama. Islam akan tetap menjadi Islam walau merasuk ke seluruh nusantara. Dan terus belajar dari guru yang tepat akan membuat kita semakin bijak bersikap. 👥👤

Islam Kok Nusantara.

caracari.info Juli 19, 2015

Islam Nusantara

    وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ--- آل عمران/١٥٩
Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu
Terlalu panjang orasi yang kudengar saat khutbah Idul Fitri mengatakan Islam nusantara adalah bagian dari begundal setan.

Apapun keterangan panjang lebar tentang ajaran Islam yang selama ini kita dengar kemudian yang baru-baru saja belakangan, intinya bagi kita, biarlah Islam Indonesia ala nusantara tidak ala arabika, ala amerika dan jangan sampai ala kadarnya. Sejuk, aman, damai, harmonis, madani. Ibadah tenang, bernegara nyaman, menikmati alam.

Jangan terprofokasi oleh proklamator yang punya kepentingannya sendiri memanfaatkan semangat yang membara untuk membakar Indonesia. Terbukti Islam nusantara ala Indonesia telah berabad-abad datang tanpa konflik, proses asimilasi yang tidak akan ditemukan oleh dakwah garis keras di timur tengah. Biarkanlah Indonesia demikian. Ini nikmat Allah yang patut kita syukuri. Jangan sampai Islam ala timur tengah menggeser ketentraman Indonesia. Kalau mau eror, erorlah di sana, jangan bawa ke Indonesia tercinta.

Tidak ada paksaan dalam Islam. Sekalipun Anda paksa, Anda tidak akan bisa memberi hidayah. Hidayah itu anugerah dari hati yang indah.

Sedikit-sedikit Bid-ah

caracari.info Juli 06, 2015
Bukanlah hal yang baru jika belakangan ini banyak yang menyuarakan kembali kepada Alquran dan Alhadits. Dengan berbagai argumen seakan ingin meluruskan ajaran-ajaran para wali yang telah berhasil memasukkan syariat di banyak kegiatan budaya lokal. Budaya yang tadinya berisi syirik karena ritualnya salah niat maupun kegiatannya yang tidak dibolehkan dalam Islam menjadi sesuai syariat dan tidak syirik tanpa merasa diusik.

Bintang Papua
Misalnya selamatan 7 hari, tahlilan, kirim doa kepada leluhur, nasi tumpeng, ketupat dan lain-lain selalu dianggap sesat karena ajaran tersebut dianggap ritual agama lain dan diajarkan oleh agama lain berdasarkan ini itu, kitab itu dan ini. Sebenarnya sesuatu yang simpel diperumit sendiri oleh para yunior-yunior yang entah seper berapa ilmunya jika dibandingkan dengan para wali yang sudah jelas berhasil berdakwah di Indonesia sebelum mereka para yunior unjuk gigi. Para Wali berhasil mengislamkan 90% penduduk nusantara, apakah ingin belakangan kemudian para hadirin membid'ahkan 90% tersebut?

Selamatan 7 hari dan lain-lain. Tahlilan, nasi tumpeng, ketupat, yasinan kirim doa termasuk ada dalam hadits Nabi 3 amal yang tidak terputus walau orangnya sudah meninggal yaitu anak sholeh yang mendoakan orang tua. Hadis nabi juga memerintahkan sodakoh dan bersosialisasi. Adapun kitab kungfu ada ajaran seperti itu atau bukan Emang Gue Pikirin? Simpel sajalah dalam berfikir tidak perlu membahas bungkusnya tetapi lihatlah isinya.

Mau ketupat, mau nasi uduk atau nasi tumpeng, mau 7,8,9,10,1000,2000 hari berturut-turut bahkan selamanya melakukan ritual selamatan tidak masalah. Asal isi dari kemasan itu sudah sesuai dengan Alquran Hadist yang belakangan digembar gemborkan untuk kembali di media sosial. 😁😁

Jika ada adat istiadat yang belum sesuai syariat, kitalah yang merangkul dan mengisinya dengan syariat. Dengan merangkul bukan memukul. Karena masalah hati jika sakit akan sulit mendapatkan simpati. Hikmah dan mauidhoh hasanah seperti tradisi bakar batu memakai berlauk Babi diganti bakar batu dengan hewan Kambing. Tradisi adat istiadat lestari, dan ajaran Islam merasuk dengan harmoni.

Kita hanyalah sebutir debu tak berilmu. Salah guru bisa gagu. Jika setuju dengan catatan ini, aku ngguyu. Jika tidak setuju, aku gak nesu. Yang penting kita tetap bersaudara sesama muslim, paling tidak sesama bangsa Indonesia. Lautan ilmu tak bertepi, membuka cakrawala pandang terhadap ilmu itu sendiri.

Hoax Dan Nasionalisme

caracari.info Juli 05, 2015
Perbedaan politik bukan dimaksudkan pula berbeda dalam membangun
Kita membaca banyak propaganda di pesbuk dan banyak media. Ada yang berdasarkan fakta sedang yang lain lebih banyak berdasar kepentingan terselubung, kebencian, opini destruktif dibumbui semangat yang berkobar.

Mereka tak patah arang dan selalu produktif dengan kabar kabari. Sampai para pembacanya muntah kekenyangan oleh sajian pesimisme. Kita rasa perbedaan politik bukan dimaksudkan pula berbeda dalam membangun optimisme. Siapa cinta tanah air terlihat dari tindakan bukan kata-kata.

Tadarrus

caracari.info Juli 04, 2015
AlQuran adalah pedoman
Malam semakin larut, dan keheningan mulai merajut menggantikan kebisingan siang. Suara alquran masih terdengar bersautan di beberapa surau.

Dulu menurut hikayat yang kubaca, Ramadhan adalah bulan yang tepat untuk mengupgrade kefasihan bacaan Alqur'an. Dari malaikat Jibril kepada Rasulullah. Dan Rasulullah kepada para shahabat. Shahabat terhadap shahabat yang lain. Ramadhan waktu yang tepat untuk membetulkan bacaan, mereplace tajwid dan saling mengingatkan sesama peserta tadarrus. Mengkoreksi dan kembali mengkaji tidak hanya bacaan tetapi juga isi yang terkandung di dalamnya.

Saat ini, suara pengeras suara memperjelas eksistensi Ramadhan. Darusan di kota, kampung, pedalaman selalu ramai. Namun beberapa diantaranya terlihat hanya menjadi formalitas. Tidak ada saling mengingatkan jika salah tajwid. Merasa rikuh mengkoreksi jika tokoh masyarakat dalam membaca kurang pas artikulasi sin dan shod. Bahkan merasa tidak berani mengingatkan jika bacaan ikhfa dari sang kiai tidak mencapai satu alif atau dua setengah alif kadar panjang madnya. Darrusan berjalan tanpa komando sang pencerah.

Yang menggembirakan banyak sajian makan bahkan berlebih di darrusan itu. Sampai-sampai oknum peserta memakan sajian itu saat peserta lain masih mengeratkan pegangan mikroponnya agar suara terdengar jelas ke segala penjuru.

Di majlis lain darrusan dikaji huruf demi huruf menggali makna dan arti. Di jamaah sebelah asal sudah berhasil membaca satu juz lantang memakai toa sudah berhak pulang membawa pahala digantikan yang lain mengantri.

Ramadhan demi Ramadhan berlalu, tadarrus lebih banyak menjadi tradisi. Yang belum berhasil menginstal ulang kerusakan sistem bacaan Alqur'an kita. Dan belum mampu menemukan kemukjizatannya. Selain keberkahan yang tersisa dari para pedarrus yang ada keiklasan dan sungguh-sungguh bertadarrus diantara mereka yang mencari sensasi, yang unjuk gigi dengan pengeras suara agar dibilang rajin. Pedarrus penyelamat itu samar menyelinap di dingin yang semakin merayap. Di kekhusyukan alam lain menuju Lailatul Qodar.

Rindu Kepada Rasulullah

caracari.info Mei 15, 2011
Rindu Kami Padamu Ya Rasul, Rindu Tiada Terperi
"Aku adalah pemimpin manusia di hari kiamat kelak".
(Dalam suatu jamuan hidangan, Rasulullah bercerita)
Allah mengumpulkan orang-orang yang terdahulu sampai terakhir. Mereka di awasi oleh pengawas, mereka menderita kepayahan dan mencapai puncak kesusahan. Matahari di dekatkan, serasa tidak kuat memikul tanggungan pada hari itu. Mereka mencari tempat berlindung dan orang yang bisa menolong.

Datanglah mereka kepada Nabiyullah Adam, yang beliau punya keistimewaan dicipta Allah pertama kali. Bahkan malaikat pun bersujud padanya. Allah juga telah memasukkan Nabiyullah Adam ke syurga. Jawab Nabi Adam:
"Sungguh Tuhanku marah pada hari ini dengan kemarahan yang tidak seperti biasa. Sedangkan diriku telah melanggar perintahNya dengan mendekati pohon khuldi. Pergilah kalian ke Nabi Nuh".

Mereka para manusia bergegas mencari dan meminta pertolongan Nabi Nuh, seorang Nabi dan Rasul pertama. Seorang hamba yang mendapat predikat yang pandai bersyukur kepada Tuhan. Jawab Nabiyullah Nuh:
"Sungguh Tuhanku pada hari ini telah marah yang belum pernah marah seperti ini sebelumnya. Sedang aku telah berbuat kesalahan dengan membunuh jiwa yang tidak diperintahkan kepada saya. (Banjir bandang seantero jagat) yang atas doa nabi Nuh supaya Allah menenggelamkan umatnya yang jahat.

Demikian para manusia datang kepada Nabi Ibrahim, Nabiyullah dan kesayanganNya, kepada Nabi Musa, Rasulullah dan kalamullah, Nabi Isa Kalimatullah. Para Rasul dan Nabi pilihan tersebut tidak sanggup menolong para umat manusia.

Lalu datanglah manusia itu kepada Kanjeng Nabi Muhammad. Meminta syafaat pertolongannya. Kemudian Kanjeng Nabi berangkat dan datang bersujud di bawah arasy. Allah pun membukakan kepada beliao pujian-pujian dan sanjungan-sanjunganNya, yang tidak pernah seorang pun mendapatkan keistimewaan itu.

Lalu dikatakan kepada Kanjeng Nabi:
"Hai Muhammad angkatlah kepalamu! Mintalah, Engkau akan diberi! Berilah syafaat pertolongan engkau diberi wewenang"

Kemudian Rasulullah Muhammad berkata:
"Ummatku ya Rabb.. Umatku.."

Lalu difirmankan:
"Hai Muhammad masukkanlah dari umatmu, orang-orang yang tidak ada perhitungan atas mereka dari pintu kanan diantara pintu-pintu syurga. Sedangkan umat selebihnya masuk dari pintu-pintu selain pintu kanan itu."

Jarak antara dua sis pintu itu berada antara kota Makkah dan kota Hajar, antara Makkah dan Bashra (Kota dekat Damaskus).

Rindu kami padamu ya Rasul. Rindu tiada terperi. Berabad jarak padamu ya Rasul seakan dikau disini. Kecintaan Kanjeng Nabi kepada kita umatnya semoga membawa kita menjadi dekat ke dalam golongannya. Bersalawatlah kepadanya, ikatlah diri kita dengan cinta dari satu-satunya pemberi pertolongan kelak di hari nanti.